Prinsip Evaluasi Pembelajaran

Memahami akan evaluasi pembelajaran, perlu mengetahui tentang prinsip evaluasi pembelajaran itu sendiri. Sebab, dalam kelangsungan kegiatan belajar mengajar, hal yang paling biasa dilakukan di akhir yakni evaluasi, yang pada dasarnya untuk mengungkapkan tingkat ketercapaian hasil belajar yang telah dilaksanakan.

Agar proses evaluasi pembelajaran berlangsung dengan baik, efektif, dan efisien, maka perlu dibangun berdasarkan beberapa prinsip yang dalam halaman ini, akan dijabarkan secara lugas. Mari kita teruskan.

Perlunya Penekanan Terhadap Prinsip

Dalam membuat dan mengembangkan evaluasi pembelajaran, tentu perlu dibuatkan atau diketahui tentang prinsip evaluasi pembelajaran yang ada. Prinsip ini, akan membuat bentuk evaluasi pembelajaran yang dilangsungkan menjadi sesuatu yang terarah dan objektif.

Sebaliknya, ketika sebuah evaluasi itu dibuat dengan tanpa dilandasi dengan nilai prinsip yang ada, maka bentuk dari evaluasi yang ada memungkinkan untuk tidak terarah dan dipengaruhi oleh faktor eksternal yang semestinya dihindari.

Terlebih lagi, bahwa evaluasi bukanlah semata-mata sesuatu tindakan yang dilangsungkan sekali saja, tanpa memberikan masukan untuk selanjutnya. Melainkan, evaluasi hanya sebatas mengukur ketercapaian dari suatu kegiatan, yang akan memberikan jawaban terhadap rekomendasi kegiatan yang akan dilangsungkan pada pertemuan selanjutnya.

Jadi, dari berbagai keadaan dan penjelasan ini, cukup untuk menggambarkan perlunya pemahaman tentang prinsip evaluasi pembelajaran. Membangun sebuah skema evaluasi pembelajaran dengan landasan prinsip yang ada, memungkinkan untuk menciptakan bentuk evaluasi yang bernilai dan berkualitas tinggi. Mari kita ketahui tentang prinsip yang dimaksudkan itu.

Prinsip Evaluasi Pembelajaran

Terdapat beberapa prinsip evaluasi pembelajaran yang semestinya diketahui. Adapun berbagai prinsip evaluasi yang dimaksudkan itu akan dijelaskan dalam uraian berikut ini.

Terkait:  Peserta Didik Dalam Pendidikan Islam: Pemahaman Berupa Konsep Dasar

1. Kontinuitas

Istilah kontinuitas merupakan istilah yang umum, dan menggambarkan tentang suatu kegiatan yang dilangsungkan secara berkelanjutan. Dalam evaluasi, kontinuitas itu dibutuhkan. Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran berlangsung dengan baik dan terukur, demi mencapai tujuan yang direncanakan.

Evaluasi tentu saja dilangsungkan untuk memperlihatkan atau mengetahui tentang ketercapaian terhadap sebuah pembelajaran yang dilangsungkan. Lantas, evaluasi harus bersikap kontinuitas, dimana maksudnya adalah evaluasi akan dilakukan secara terus menerus, untuk mengetahui hasil yang dicapai serta grafik peningkatan yang ada. Dengan mengikuti pedoman kontinuitas, maka Guru dapat melihat tentang apa yang semestinya dilakukan di masa mendatang.

2. Komprehensif

Komprehensif maksudnya adalah menyeluruh. Dalam hal ini, komprehensif diarahkan pada objek evaluasi, yakni kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ketika objek ini merupakan sesuatu yang semestinya dilakukan evaluasi padanya, secara menyeluruh.

Hal yang umum terjadi, bahwa kegiatan evaluasi hanya terfokus pada ranah kognitif (pengetahuan) semata, dan mengabaikan ranah yang lainnya. Keadaan ini, tentu menghilangkan unsur komprehensif yang dimaksudkan disini.

Oleh karenanya, sebagai guru yang lebih dari sekedar memberikan informasi materi ajar, selayaknya memberikan evaluasi terhadap berbagai ranah dalam sisi peserta didik. Ketiga ranah yang telah disebutkan itu, adalah bagian yang penting untuk menjadi objek evaluasi demi menciptakan manusia yang insan kamil.

3. Kooperatif

Salah satu prinsip evaluasi pembelajaran adalah kooperatif. Maksudnya adalah bahwa evalusi harus dilangsungkan dengan kooperatif, dimana itu melibatkan berbagai elemen yang ada seperti Guru, Wali Kelas, Orangtua Siswa, bahkan siswa itu sendiri.

Keseluruhan elemen itu semestinya terlibat dalam kegiatan evaluasi yang dilangsungkan, meski tidak secara langsung.

4. Objektif

Prinsip evaluasi pembelajaran selanjutnya adalah objektif. Kegiatan evaluasi itu harus dilakukan secara objektif. Adapun kedekatan antara guru dan siswa, hubungan emosional antara guru dan siswa, hubungan kekeluargaan, faktor ketidak-tegaan, atau apapun yang melibatkan kedekatan antara guru dan siswa sebaiknya dikesampingkan dalam proses evaluasi. Hal ini akan mempengaruhi hasil akhir atas evaluasi yang dilakukan.

Terkait:  Nomor Registrasi Kepala Sekolah: Bagaimana Mendapatkannya?

Untuk menghadirkan objektif dalam evaluasi, maka penilaian hanya berpaku pada hasil belajar peserta didik itu sendiri, yang akan terlihat dari pemahaman mereka dalam menyelesaikan evaluasi yang dilaksanakan.

5. Praktis

Prinsip evaluasi pembelajaran yang terakhir adalah prinsip praktis, dimana maksudnya adalah evaluasi itu semestinya diciptakan dengan landasan praktis. Praktis disini, maksudnya pada bentuk dari evaluasi itu sendiri.

Melakukan evaluasi, tidak selamanya membutuhkan bahan-bahan atau perlengkapan yang membutuhkan pendanaan besar. Oleh karenanya, dengan prinsip praktis ini, akan menciptakan bentuk evaluasi yang lebih sederhana, namun dapat digunakan secara efektif dan objektif.

Namun hal yang perlu disadari, bahwa kepraktisan evaluasi yang ada, jangan sampai menghilangkan esensial dari evaluasi pembelajaran itu sendiri, yakni mencapai tujuan pembelajaran.

Gambar Email

Jangan Ketinggalan Pos Terbaru

Daftar sekarang dan dapatkan artikel pendidikan terbaru

Tinggalkan komentar