Latar Belakang Masalah Penelitian Kualitatif

Setiap penelitian itu berasal dari masalah, dan disini kita akan membahas mengenai latar belakang masalah penelitian kualitatif. Secara umum, tidak jauh berbeda dengan latar belakang masalah pada umumnya. Tehnik ini, dapat juga digunakan untuk penelitian jenis kuantitatif, atau tindakan kelas. Yang menjadi pembeda, adalah persoalan objek mengangkat masalahnya.

Tetapi sebelum terlalu jauh, Saya ingin memberitahukan kepada Anda bahwa halaman ini akan membelajarkan Anda tentang banyak hal, hingga pada akhirnya akan dapat menentukan latar belakang masalah penelitian kualitatif.

Mari kita mulai.

Memahami Masalah Penelitian

Sebagai permulaan, semestinya kita mengetahui terlebih dahulu tentang masalah penelitian itu sendiri. Tanpa pemahaman ini, tentunya akan sulit untuk mengangkat latar belakang masalah. Karena LBM adalah penjabaran dari setiap permasalahan yang ada.

Masalah adalah kesenjangan, dimana adanya ketidak sesuaian (relefan) antara teori dan praktik dilapangan. Ini adalah defenisi yang sederhana, namun mengandung makna yang mendasar tentang masalah.

Berdasarkan hal ini, maka dapatlah diambil kesimpulan bahwa masalah adalah tidak sesuainya antara apa yang dicantumkan dalam teoritis atau regulasi, dengan kondisi dan keadaan dilapangan (lokasi penelitian). Ketidak sesuaian inilah yang menjadi inti atau masalah, yang tentunya dapat diangkat menjadi masalah penelitian.

Tehnik Menemukan Masalah Penelitian

Untuk dapat menemukan masalah yang akan diangkat menjadi sebuah penelitian, maka dibutuhkan tehnik tertentu yang secara umum dilakukan kebanyakan peneliti. Namun, sebelum pada tahapan ini, peneliti memahami terlebih dahulu tentang “masalah”, yang telah dijelaskan sebelumnya.

Ada beberapa tehnik yang dapat digunakan untuk menemukan masalah penelitian, antara lain sebagai berikut:

1. Penguasaan Teori Tertentu

Peneliti membekali dirinya dengan teori tertentu, dan sebaiknya itu dikuasai menyeluruh. Pasalnya, teori-teori inilah yang menjadi pokok kajian yang akan disandingkan dengan kondisi di lapangan (lokasi penelitian).

Terkait:  Penelitian Kuantitatif: Penjelasan Konsep Dasar

Dalam hal ini, istilah teori diartikan sebagai kajian, pustaka, referensi, rujukan, atau dapat juga berupa regulasi, yang merupakan sebuah susunan baku atas hal tertentu.

Sebagai contoh, “Undang-Undang mengatur tentang kompetensi yang harus dimiliki guru di sekolah, dan itu terdiri dari empat kompetensi seperti kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial.”

Ini adalah sebuah regulasi tentang kompetensi guru, dimana tentunya menjadi objek kajian dari peneliti yang ingin meneliti tentang kompetensi guru. Setelah ini terpenuhi, maka selanjutnya, kita berangkat pada tahapan selanjutnya.

2. Temukan Kesenjangan di Lokasi Penelitian

Ini adalah bagian penentu, yang menjadi langkah analisis dari seorang peneliti. Ketika peneliti berangkat dengan membekali diri berupa teoritis dalam kajian tertentu, maka ini bukan lagi langkah yang sulit. Peneliti hanya perlu menemukan kesenjangan yang terjadi dilapangan.

Sebagai sebuah contoh, dalam poin 1, diungkapkan tentang kompetensi guru yang semestinya dan diatur dalam Undang-Undang. Namun faktanya dilapangan, peneliti menemukan bahwa “terdapat guru yang berpakaian tidak sopan di sekolah.”

Berpakaian tidak sopan, tidak sesuai dengan kompetensi kepribadian guru yang terdapat dalam Undang-Undang. Jadi, ini adalah kesenjangan, dimana regulasi yang ada, tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Maka dari itu, bagian ini merupakan masalah yang dapat diangkat menjadi sebuah penelitian.

Gambar Email

Jangan Ketinggalan Pos Terbaru

Daftar sekarang dan dapatkan artikel pendidikan terbaru

Tinggalkan komentar