Evaluasi Dalam Islam

Keutamaan Evaluasi Dalam Islam: Sebuah Sudut Pandang 2021

Evaluasi merupakan hal yang dinilai penting dalam kegiatan belajar mengajar. Namun, ada keutamaan evaluasi dalam Islam yang semestinya diketahui bagi setiap pendidik Islam.

Tanpa pelaksanaan evaluasi, tentu saja ketercapaian tujuan pembelajaran itu tidak dapat dipastikan. Oleh karenanya, evaluasi merupakan suatu kewajiban untuk dilaksanakan setiap Guru dalam mengetahui tingkat keberhasilan pembelajarannya.

Disini, Anda akan mengetahui tentang evaluasi dalam sudut pandang Islam. Mari kita mulai.

Dasar-Dasar Evaluasi dalam Islam

Evaluasi adalah hal yang semestinya disadari, bahwa itu dilakukan pada setiap aktivitas yang ada. Dalam aspek cakupan yang lebih luas, pada dasarnya setiap manusia (berakal) melakukan evaluasi. Namun, itu tidak dilakukan secara terstruktur.

Kehidupan yang selalu berkembang, membuat anggapan bahwa setiap orang itu berpikir untuk menjadi lebih baik di masa mendatang. Sebaliknya, tidak akan ada orang (berakal) yang ingin mengalami kegagalan untuk kedua kalinya bila mereka mengetahuinya.

Ini merupakan aktivitas evaluasi, dimana setiap orang akan belajar dari apa yang mereka lewati, terlebih lagi dalam hal negatif (bermakna kegagalan dalam mencapai sesuatu).

Alquran telah menjelaskan dalam Surah Ali-Imran ayat 1421 yang berbunyi:

اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصّٰبِرِيْنَ

Terjemah: Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.

Ayat di atas menerangkan bahwa pentingnya bagi setiap insan manusia untuk senantiasa berbenah diri untuk menjadi sesuatu yang lebih baik lagi di masa mendatang. Keindahan Islam, telah meluruskan kita pada pemahaman akan merubah tingkah laku menjadi yang lebih baik lagi, dari masa ke masa.

Keadaan ini, bermakna sebagai evaluasi. Demikian pula halnya dalam pendidikan, sudah barang tentulah untuk selalu berbenah diri untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran yang dicita-citakan lewat aktivitas evaluasi pembelajaran.

Objek Evaluasi dalam Islam

Evaluasi dalam Islam memiliki beberapa bagian yang dapat dijadikan sebagai objek dalam evaluasinya. Setidaknya terdapat tiga objek evaluasi dalam Islam, yaitu (1) Evaluasi Kognitif (Cognitive Domain); (2) Evaluasi Afektif (Afective Domain); dan (3) Evaluasi Psikomotorik (Phsycomotor Domain). Adapun objek evaluasi yang dimaksudkan itu antara lain sebagai berikut:

1. Evaluasi Ranah Kognitif

Kognitif adalah bagian yang mencakup pikiran, pengetahuan, akal, otak, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, segala hal yang memiliki keterkaitan dengan otak (pikiran), maka tergolong dalam ranah kognitif.

Seperti teori yang terkenal, yakni Taksonomi Bloom mengungkapkan bahwa kognitif ini melewati beberapa tahapan, yakni:

  • Pengetahuan
  • Pemahaman
  • Penerapan
  • Analisis
  • Sintesis; dan
  • Penilaian

Keseluruhannya itu adalah tahapan yang akan terjadi dalam akal, ketika menerima sesuatu pelajaran tertentu. Sehingga pada akhirnya, ini berlangsung secara berulang dan menghasilkan sebuah proses pembaruan yang lebih baik.

2. Evaluasi Ranah Afektif

Ranah afektif erat kaitannya dengan sikap. Jadi, dalam hal ini akan membahas atau mengulas segala hal tentang sikap yang lahir dari proses belajar (Kognitif).

Saat pembelajaran antara guru dengan peserta didik itu dilangsungkan, maka sejatinya disana telah terjadi proses transformasi ilmu, dimana ada ilmu yang bernilai kognitif disana.

Setelah dibelajarkan, semestinya siswa itu berubah sikapnya menjadi sesuatu yang lebih baik lagi, disesuaikan dengan topik yang dibahas.

3. Evaluasi Ranah Psikomotorik

Ranah Psikomotorik adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan (Phsycomotor domain). Hal ini umumnya seperti kemampuan (Skill) yang dimiliki seseorang setelah ia menerima pembelajaran.

Psikomotorik lahir dari ranah-ranah sebelumnya yang telah dilewati. Yaitu seperti ranah kognitif, yang berkaitan dengan materi pelajaran. Afektif, yang merupakan sikap dari hasil belajar. Keduanya itu akan membentuk sebuah domain yang dinamakan psikomotorik (kemampuan) atas apa yang dipelajari.

Dalam pendidikan Islam, hal ini tentunya lebih mengarah pada kegiatan keagamaan. Efektifitas pembelajaran Pendidikan Islam, ketika Domain Psikomotorik ini diterapkan oleh siswanya. Itu artinya, tujuan pembelajaran itu tercapai. Hal ini dapat seperti melaksanakan kegiatan beragama, seperti Sholat, puasa, membaca Alquran, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan skill keagamaan.

Ranah psikomotorik, merupakan ranah yang dapat dinilai dalam Pendidikan Islam. Oleh karena itu, ini termasuk dalam Objek Kajian Evaluasi Pembelajaran Islam. Sejatinya, pendidikan keagamaan menanamkan harapan besar untuk terciptanya budi pekerti yang luhur bagi peserta didik. Oleh karena itu, aspek psikomotorik semestinya menjadi sesuatu yang tidak dapat dihilangkan dari proses Evaluasi.

Manfaat Evaluasi dalam Islam

Manfaat evaluasi dalam Islam semestinya tidak jauh berbeda dengan manfaat evaluasi (penilaian) pada umunya. Untuk mengulas tentang manfaat evaluasi, maka hal ini terbagi menjadi tiga bagian, yakni (1) Manfaat bagi siswa; (2) Manfaat bagu Guru; dan (3) Manfaat bagi sekolah. Adapun penjelasan lebih rinci, sebagai berikut.

1. Manfaat Evaluasi Bagi Siswa

Evaluasi memungkinkan siswa untuk mengetahui tentang sejauh mana keberhasilan mereka dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar tertentu. Dalam hal ini, umumnya keberhasilan yang dapat diraih oleh siswa itu terdiri atas 2 bagian, yaitu:

  • Memuaskan
    Ketika peserta didik itu mendapat nilai dengan predikat memuaskan, tentu ini adalah sesuatu kabar baik. Pada umumnya, hal ini memicu terciptanya semangat dalam diri siswa untuk mendapatkan predikat yang sama pada materi-materi selanjutnya.
  • Tidak memuaskan
    Predikat tidak memuaskan, tentu bukanlah yang diharapkan bagi banyak orang. Meski demikian, predikat ini dapat memicu bertambahnya kemauan untuk meningkatkan belajar, agar mendapat predikat lebih tinggi pada materi berikutnya. Namun pada umumnya, tidak menutup kemungkinan terdapat sejumlah siswa dengan tingkat kemauan yang rendah, yang justru mengabaikan akan predikat “Tidak memuaskan” yang didapatnya itu. Oleh karenanya, bagian ini perlu tindak lanjut lebih dalam.

2. Manfaat Evaluasi Bagi Guru

Ada beberapa manfaat evaluasi yang dimaksudkan untuk Guru. Adapun manfaat itu antara lain sebagai berikut:

  • Guru mengetahui tentang kemampuan dari masing-masing peserta didiknya.
  • Guru mengetahui apakah media pembelajaran untuk mendukung materinya, sudah sesuai atau justru perlu perbaikan di pertemuan selanjutnya.
  • Guru mengetahui tentang tingkat relevansi dari metode yang digunakannya dalam pembelajaran. Apakah itu perlu pembaruan, atau justru tidak sesuai dengan materi tertentu. Sehingga, keadaan ini akan menimbulkan suasana pembelajaran yang lebih baik di masa mendatang.

3. Manfaat Bagi Sekolah

Pelaksanaan evaluasi tidak hanya memberi manfaat kepada guru atau peserta didik semata. Hal ini juga dapat berpengaruh positif bagi lembaga atau sekolah itu sendiri. Ada beberapa bagian yang termasuk dengan manfaat evaluasi bagi sekolah, antara lain yakni:

  • Mendapatkan informasi tentang relenvansi kurikulum berlaku.
    Maksudnya adalah bahwa dengan hasil evaluasi yang dilakukan oleh guru, ini memungkinkan untuk sekolah menerima masukan atau kritikan yang membangun tentang penerapan kurikulum yang berlaku di sekolah tersebut.
  • Evaluasi yang dilakukan Guru, tentu akan memberikan gambaran tentang keterbatasan apa saja yang ditemui dalam kelas. Hal ini umumnya mengacu pada ketersediaan sarana belajar. Oleh karenanya, dengan adanya informasi dari guru ini (berdasarkan hasil evaluasinya), maka memungkinkan bagi lembaga untuk lebih memperbaiki kualitas lembaganya. Hasil belajar merupakan cermin dari kualitas sebuah sekolah.
  • Sekolah mendapatkan informasi dari Guru, tentang pemenuhan standar yang ada di sekolah tersebut. Terlebih lagi bila penilaian itu menunjukkan angka dari tahun ke tahun. Maka, akan jauh lebih mudah untuk melihat grafik yang ada. Apabila itu mengalami p enurunan, hal ini akan lebih mudah untuk mendeteksi tentang standar yang belum terpenuhi di suatu lembaga.

Kesimpulan

Evaluasi merupakan langkah mengukur dan menilai terhadap sesuatu. Pada dasarnya, setiap manusia (berakal) menerapkan evaluasi dalam kesehariannya. Namun, hal itu tidak dilangsungkan secara terstruktur. Islam juga menekankan tentang evaluasi dalam diri setiap orang. Hal ini dituangkan dalam Alquran surah Ali-Imran ayat 142. Disana menerangkan bahwa setiap instan manusia, semestinya memperbaiki diri dari hari ke hari.

Dalam melaksanakan evaluasi, terdapat beberapa objek yang relefan, antara lain yakni kognitif, afektif, dan psikomotorik. Evaluasi juga memberikan pengaruh positif terhadap komponen pendidikan seperti peserta didik, guru, hingga pada sekolah itu sendiri.

Referensi

1 Quran Kemenag. https://quran.kemenag.go.id/sura/3/142. Diakses pada 07 Oktober 2021.

Tinggalkan komentar